PSSIkopat !!


Dalam beberapa tahun terakhir, negeri kita digegerkan dengan berbagai pemberitaan tentang pembunuhan berantai nan sadis, yang paling mengegerkan adalah kasus Ryan sang jagal dari Jombang. Siapa yang tidak mengenal pemuda yang telah membunuh 12 orang dengan cara-cara yang “nyeleneh”? Siapa yang tidak mengecam perbuatan tidak berkemanusiaan yang telah dilakukannya terhadap korban-korbanya? Semua orang mengecam perbuatan tersebut, pihak kepolisian pun disibukkan untuk mengungkap fakta-fakta terkait kasus mutilasi yang dilakukan sang jagal. Kenapa itu terjadi? Menurut keterangan yang dihimpun, sang jagal adalah seorang psikopat. Apa itu psikopat? Berikut ini adalah pengertian psikopat (dikutip dari wikipedia)

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

Lalu seperti apa ciri-ciri psikopat? Dalam buku The Mask of Sanity, Dr Hervey Cleckley menggambarkan ciri-ciri pribadi psikopat :

  1. Mudah bergaul
  2. Menawan
  3. Intelek
  4. Perhatian
  5. Impresif
  6. Punya pede tinggi
  7. Pintar merayu
  8. Cerdas secara akademik.

Namun mereka pun memiliki sifat-sifat negatif yairu tidak bertanggung jawab, serta merusak diri sendiri dan orang lain. Serta seorang psikopat tidak pernah menyesal apabila telah menyakiti perasaan orang lain, mereka tidak akan pernah merasa bersalah.

Menurut Robert D. Hare ahli psikopati dunia, bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dankeuntungan dirinya sendiri. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. (15-20 persen dari total psikopat)

Membaca keterangan-keterangan tersebut saya termenung sejenak, lalu memandang ke sisi yang lebih luas lagi. Apakah hanya ryan sang penjagal saja yang bisa disebut seorang psikopat? Apakah karena dia telah membunuh banyak nyawa sehingga ia berhak di cap sebagai psikopat sejati? Malah sepertinya dinegara ini sedang menjamur orang-orang dengan ciri-ciri pribadi psikopat!

Sedang hangat diperbincangkan sedari kemarin adalah tentang kongres PSSI yang akan menentukan siapa pemimpin organisasi sepakbola Indonesia. Para penggemar sepakbola sangat berapi-api untuk memulai perubahan terhadap sistem pengelolaan sumber daya sepakbola di negara ini. Maklum saja dari 2 Dekade terakhir olahraga kegemaran rakyat ini minim prestasi dikancah internasional. Jangankan main di Piala Dunia (impian setiap insan bola Indonesia), dilevel asia tenggara saja prestasi “membanggakan” hanyalah ketika Timnas PSSI mampu menjadi Juara 2 kompetisi rutin ASEAN. Itupun dengan berbagai kontroversi dibalik perjalanan tim selama turnamen. Publikasi yang berlebihan lah, dijadikan alat “klaim” politik lah.

Saat pemilihan akan menuju fase berikutnya, terdapat 2 Calon dari “Orde Lama” serta 2 Calon dari kudu “Reformasi”. Namun apa daya 2 calon dari kubu “reformasi” dinyatakan tidak lolos sebagai calon Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Lalu apa alasan ketidak lolosan mereka? “Dijelaskan, pada dasarnya (alasan tidak lolosnya) Toisutta adalah tidak dipenuhinya persyaratan aktif di sepakbola selama 5 tahun. Kalau Pak Arifin karena keterlibatannya dalam Liga Primer Indonesia (LPI),” jelas kuasa hukum Arifin-Toisutta, Timbul Thomas Lubis (Minggu (20/2/2011)-kompas.com). Lagi-lagi pasti yang dijunjung oleh dagelan PSSI adalah Pasal 35 ayat 4 Statuta PSSI yang berbunyi :

Anggota Komite Eksekutif harus sudah berusia 30 tahun, mereka harus telah aktif di sepakbola sekurang-kurangnya lima tahun dan harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat Kongres serta berdomisili di Wilayah Indonesia.

Jika memang mengacu pada Statuta tersebut sudah pasti yang seharusnya tidak lolos itu adalah calon incumbent. Sudah terlalu banyak peraturan-peraturan serta penyelenggaraan pemilihan calon ketua PSSI yang baru ini yang terkesan dikamuflase memutar balik fakta untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri. Padahal dalam perjalanan kepemimpinannya NIHIL prestasi!  Tidak bertanggung jawab, serta merusak orang lain. Serta seorang psikopat tidak pernah menyesal apabila telah menyakiti perasaan rakyat Indonesia mereka tidak akan pernah merasa bersalah.

PSSIkopat!!!

Semoga segera terjadi perubahan pola berfikir dari para pemimpin bangsa ini, saya rasakan sifat psikopat ini tidak hanya ada pada tubuh  PSSI saja, tetapi telah hampir menjangkiti seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di negara kita ini.

Fans Timnas PSSI

Salam Perubahan.

Kunjungi juga dirumah yang lain http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/02/20/pssikopat/

Advertisements